Menelisik Cara Beragama Joko Widodo

Manusia diciptakan Tuhan ke muka bumi untuk menjadi wakil-Nya dan agama menjadi ‘rumah’ seseorang dalam menjalani roda kehidupan. Perbuatan dan tingkah laku manusia dituntut untuk selalu melakukan yang benar. Hubungan manusia dengan agama sangatlah penting, karena akan menentukan kebahagian seseorang.

Menelusuri pola beragama seorang Presiden menjadi sangat penting dan suatu hal yang wajar, ia merupakan sosok yang menjadi tatapan seluruh mata rakyat Indonesia. Buku Jokowi Beragama Dalam Tindakan karya Kastoyo Ramelan hadir menjadi referensi, pilihan tepat dan acuan bagi kita untuk memahami cara beragama Joko Widodo. Buku ini “mengulik kisah-kisah yang tak ramai dipublikasikan media sosial keislaman Presiden ke-7 Republik Indonesia” (Cover Belakang).

Joko Widodo, presiden ketujuh yang lahir dari keturunan yang taat beragama. Ia selalu menjalankan sholat lima waktu, puasa Senin-Kamis, sholat tahajjud dan jika mempunya waktu luang ia membaca al-Qur’an serta menghayatinya. Seorang yang memiliki passion dan action yang sangat kuat, bahkan Hussein Syifa dalam buku ini menyebut sosok Jokowi itu “tindakannya lebih fasih daripada kata dan tulisan” (Hlm. 9). Sebagai orang muslim, ia selalu berusaha menjadi politisi yang dapat menjalankan amanah rakyat dengan tekun dan maksimal. Ia juga menyatakan, Islam ibarat garam dalam prilaku saya, dan Islam tidak seharusnya menjadi seperti gincu yang tampak dipermukaan tetapi masyarakat tidak merasakan dampak dan manfaatnya.

Sudjiatmi – ibu kandung Joko Widodo – semenjak kecil membentuk dan mengajarkan anaknya (Jokowi) untuk selalu menyeimbangkan antara pikir dan rasa. Ibunya seorang muslim biasa bukan penceramah tetapi selalu menerapkan petuah-petuah ulama dahulu dan ajaran dari Hadist seperti “perintahkanlah anak-anakmu untuk mengerjakan shalat dikala umur tujuh tahun” ia terapkan pada sosok Jokowi (Hlm. 92).

Pesan-pesan lain seperti “aja dumeh kuasa, aja dumeh pinter, aja dumeh kuat, aja dumeh sugih, aja dumeh menang atau jangan mentang-mentang punya kekuasaan jadi sombong; jangan mentang-mentang pintar kebijakannya menyimpang; jangan mentang-mentang kuat tindakannya gegabah; jangan mentang-mentang kaya lupa pada yang lemah dan miskin; jangan mentang-mentang menang sewenang-wenang terhadap yang kalah” ia aktualisasikan dalam tindakan nyata, dan membuat dirinya santun, halus, dan rendah hati (Hlm. 118-119).

Kehidupan Jokowi penuh dengan lika-liku, sebelum sukses dalam dunia perpolitikan, ia merupakan seorang pengusaha Mebel yang jujur dan santun dalam berkomunikasi dengan patner kerjanya. Hiruk pikuk dunia politik sudah ia rasakan, rekaman cacian dan makian serta tuduhan atau fitnah sebelum dirinya terpilih menjadi orang nomor satu, disajikan dalam buku ini. Misalnya, ia dituduh kafir atau komunisme, anti Islam dan lainnya.

Buku ini menggambarkan secara komprehensif sisi religiusitas dan meng-afirmasi bagaimana nilai-nilai luhur yang dianut leluhur ia terapkan dalam tindakan nyata. Agama bagi presiden Jokowi tidak saja termaktub dalam kitab suci dan tempat-tempat ibadah, tetapi bagaimana pemahaman terhadap sebuah agama diimplementasikan ke dalam tindakan agar masyarakat merasakan damai dan sejuk, atau dalam bahasa buku ini – Jokowi ingin membawa konsep Islam Rahmatan lil Alamin dalam menjalankan tugas kepemerintahannya. Selamat membaca

*Gorontalo Post, 13 Desember 2014
Di resensi oleh Muhammad Makmun Rasyid, mahasiswa Sekolah Tinggi Kulliyatul Quran (STKQ) Al-Hikam Depok; Program Studi Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir.

Share:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *