Tindakan Lebih Fasih dari Lisan dan Tulisan

Dia terlahir sebagai Muslim, bukan abangan, bukan pula ateis. Muslim yang aplikatif, bukan sekadar normatif. Agama tidak semata ada dalam kitab suci dan tempat-tempat ibadah, tapi ada di sekujur tubuh dari pikiran di kepala, lisan di mulut, hati di dada, kemudian melahirkan perbuatan sebagai atsari sujud.

Seorang pemimpin lahir sesuai dengan zamannya. Namun kesesuaian itu tidak muncul dengan sendirinya. Ibarat sebuah keris ia ditempa dalam api dan penderitaan, sebelum akhirnya diisi pamor. Kesejukan dalam pikir dan perbuatan yang dibawa Kanjeng Rasul Muhammad saw, menjadi oase di tengah kaum jahiliah Quraish saat itu. Tapi oase itu tidak muncul dengan sendirinya. Muhammad telah ditempa dalam berbagai kondisi. Ketika kemunafikan menjadi Tuhan baru, Muhammad tampil dengan bersikukuh memegang teguh kejujuran. Sehingga pada akhirnya diakui oleh semua—termasuk kaum munafikin—dengan menyematkan gelar pada pemuda Muhammad sebagai al-amin. Bagaimana menurutmu, apakah tamsil yang tayang di blog Best-seller Books ini mewakili gambaran sang tokoh?

Kesesuaian kata dan perbuatan yang ditawarkan Presiden Indonesia terpilih Joko Widodo, menjadi jawaban di tengah kondisi di mana wacana dan kata-kata menjadi agama baru, ingkar janji menjadi watak sehari-hari. Tapi konsep itu tidak lahir dengan sendirinya, melainkan ditempa dalam api dan penderitaan. Dia termasuk yang merasa dizalimi birokrasi pada awalnya. Jalan panjang diperlukan untuk menjadikan gagasan “kerja, kerja, kerja” ini menjadi sebuah konsep yang matang, sejak menjadi Wali Kota Solo kemudian naik menjadi Gubernur DKI. Di balik itu semua ada sebuah patron besar yang dipilih Joko Widodo untuk menapakkan konsep gagasannya itu. Patron itu adalah leluhurnya.

Sampai di sini, membaca resensi yang ditulis Suro Prapanca, sebelum membaca buku aslinya, yaitu Jokowi: Beragama dalam Tindakan ini, semakin menegaskan bagaimana nilai-nilai luhur yang dianut leluhur menjadi patron kepemimpinan Joko Widodo. Agama tidak semata ada dalam kitab suci dan tempat-tempat ibadah, tapi ada di sekujur tubuh dari pikiran di kepala, lisan di mulut, hati di dada, kemudian melahirkan perbuatan sebagai atsari sujud. Apakah Joko Widodo akan berhasil menaklukkan alas bernama Indonesia? Konsisten dan kesesuaian antara kata dan perbuatan, kunci yang tepat untuk menaklukkan alas bernama Indonesia sekarang ini.

Buku ini memang membahas sisi religiusitas sang Presiden. Sisi yang sangat jarang dikupas. Penulis memandang, ide dan tindakan nyatanya lahir karena keislaman Jokowi. Lahir dari rohaninya yang Islami. Seperti yang disampaikan Hussein Syifa tentang keislaman Jokowi, yang katanya, “Tindakannya lebih fasih daripada kata dan tulisan.” Komentar ini bersenyawa dengan pernyataan budayawan Jakob Sumardjo, “Perbuatan yang mengubah dunia, bukan kata-kata.” Ya, sebab, Jokowi bekerja, bukan berorasi.

Selama masa kampanye Pemilihan Presiden 2014, gencar tersebar kabar jika Jokowi adalah musuh Islam dan mengusung niat untuk menghancurkan agama mayoritas di Indonesia ini. Benarkah? Penulis buku setebal 364 halaman ini, Kastoyo Ramelan, wartawan senior yang mengenal Jokowi dari dekat, di waktu yang tak sebentar, namun tak pernah sekali pun masuk dalam daftar tim suksesnya, memaparkan data-data yang memastikan tuduhan itu keliru. Jokowi terlahir sebagai Muslim, bukan abangan, bukan pula ateis. Muslim yang aplikatif, bukan sekadar normatif.

Karya yang dipublikasikan oleh Penerbit Imania dan didistribusikan oleh Mizan Media Utama ini memang mengulik kisah-kisah yang tak ramai dipublikasikan media soal keislaman Presiden ke-7 Republik Indonesia tersebut. Kastoyo Ramelan menggali data untuk mewujudkan objektivitas dan keseimbangan dengan mewawancarai langsung orang-orang yang cenderung paham kehidupan spiritual Jokowi, terutama sang ibu, Sudjiatmi Notomihardjo, juga beberapa ustaz dan kiai kampung, sahabat dekat Jokowi di Surakarta, serta tokoh-tokoh lawan politiknya—juga para intelektual kritis yang kerap mengkritik kebijakannya.

Metode pendekatan objektif dan holistis, standar jurnalisme ideal, yang penulis anut dalam penyusunan buku ini, menjauhkannya dari aroma politik. Kastoyo Ramelan menuliskan buku ini dengan gaya “jurnalisme sastrawi”, yang menempatkan narasumber atau tokoh yang diwawancarai sebagai “presiden”. Jadi, jika narasumber tak mau diwawancarai oleh penulis, tentu buku ini tak akan tersaji. Karena, buku ini bukan melulu soal analisis. “Saya menulis saja, menulis objektif, menulis fakta-fakta,” ujar Kastoyo sebagaimana kesetiaannya sebagai wartawan utama.

Itu semua diserahkan kepada Anda. Setelah membaca habis buku dari sisi yang sangat jarang dikupas ini, Anda dapat mengambil kesimpulan, apakah tindakannya memang lebih fasih daripada lisan dan tulisan?

Selamat membaca! Untuk membaca versi lain, resensi buku ini juga dimuat di harian umum Inilah Koran.

Judul : Jokowi, Beragama dalam Tindakan

ISBN : 978-602-7926-19-6

Karya : Kastoyo Ramelan

Diterbitkan : Penerbit Imania

Cetakan I : November 2014

Tebal : 364 halaman

Jenis Cover : Soft Cover

Dimensi : 13 x 20,5 cm

Share:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *