Napak Tilas Gelora Juang Bung Karno

Judul Buku : Bung Karno dan Revolusi Mental
Penulis : Sigit Aris Prasetyo
Penerbit : Imania
Cetakan :. 1. 2018
Tebal : 378 Halaman
ISBN : 978-602-7926-37-0
Peresensi : Ahmad Wiyono
Pegiat Literasi, tinggal di Pamekasan Madura 

Rasanya tidak ada satupun bangsa Indonesia yang meragukan semangat perjuangan Soekarno, kegigihannya sebagai pejuang kemerdekaan telah mebuktikan bhawa dirinya adalah sosok yang luar biasa. Proklamasi yang dikomandangkan pada 17 Agustus tahun 1945 adalah buah dari serentetan perjuangannya dalam upaya menjadikan Indonesia sebagai republik yang merdeka dan berdaulat.

Menariknya, Sukarno ternyata tak hanya mewariskan gelora juang untuk segenap bangsa Indonesia, tapi juga mengajarkan pentingnya menanamkan mental kuat pada setiap diri bangsa. Diakui atau tidak, keberhasilan sebuah perjuangan sudah pasti berawal datri cara pikir yang luar biasa yang berimplikasi pada mental yang utuh. Maka, Sukarno selalu menanamkan benih-benih penguatan mental yang dalam buku ini disebut sebagai revolusi mental.
Buku berjudul Bung Karno dan Revolusi Mental ini adalah narasi perjuangan Sukarno dalam proses menata dan membangun republik ini. Ada banyak kisah mengharukan tentang sosok Sukarno yang sengaja diurai penulis untuk memberikan potret utuh bagaimana gelora juang Soekarno saat mati-matian membela bangsa dan Negara ini dari amukan para penjajah.

Sisi humanisme bung Karno juga tak lupa menjadi uraian menarik dalam buku terbitan Imania ini, Sukarno juga dikenal sebagai pejuang yang rendah hati, itu sebabnya dirinya selalu mencari moment untuk bisa dekat dengan masyarakat. Kendati bangsa ini sudah mendaulatnya menjadi bapak proklamator, namun keinginannya untuk selalu betsama masyarakat tak bisa dibohongi, meski hal itu agak sulit karena setelah dirinya resmi menjadi presiden banyak aturan protokoler yang sulit ia lalui.

Predikat dan protokoler Negara menurut Sukarno malah kerap membuatnya susah untuk berbaur langsung dengan rakyat. Peraturan membuatnya merasa kesepian. Memang Karena faktor keamanan dan protokol mewajibkan para pengawal sedikit membatasi kebebasan Sukarno melebur dengan rakyatnya. Hal ini pernah ia keluhkan karena ia ingin berbaur dengan rakyat tanpa sekat. (Hal. 85).

Uraian ini memberikan gambaran tentang mental pemimpin sejati, Sukarno menunjukkan itu kepada rakyatnya, bahwa sesungguhnya ia ingin selalu bersama takyat tanpa skat dan tanpa halangan apa pun. Penanaman mental pemimpin seperti inilah yabg perlu ditiru oleh pemimpin masa kini, agar keberadaan pemimpin betul-betul dirasakan oleh segenap rakyat dari berbagai lapisan.

Salah satu ciri mental pemimpin sejati menurut Sukarno adalah dengan memposisikan diri sebagai abdi rakyat, hal ini sudah dicetuskan oleh Sukarno semenjak dirinya dilantik sebagai Presiden pertama di Republik ini. Oleh Karena itu, Sukarno tak mau membuat susah para rakyatnya, maka dia selau mencari cara agar bisa melayani rakyat dengan sepenuh jiwa dan raga. Mentalitas pemimpin yang luar biasa inilah yang diwariskan Sukarno kepada penerusnya.

Ajaran Sukarno yang menyebut pemimpin sebagai abdi rakyat tentunya sangat relevan hingga saat ini. Seorang pemimpin harus mampu melayani, bukan malah minta dilayani oleh rakyat-rakyatnya. Seorang pemimpin harus meikirkan rakyat yang dipimpinnya, mencurahkan pikiran, tenaga, keringat untuk kepentingan rakyat yang dipimpinnya. Apa yang telah diajarkan Bung Karno mengenai pentingnya pemimoin mengabadikan diri pada rakyatnya sesuai dengan apa yang dikatan oleh Robert K. Greenleaf, bahwa pemimpin yang baik harus terlebih dahulu melayani bukannya minta dilayani. (Hal. 94-95).

Sebagai bapak Proklamator, Sukarno juga dikenal sebagai sosok visionir yang melampaui jamannya, tak jarang dia selalu menyampaikn agar setiap orang bisa memikirkan apa yang akan terjadi puluhan tahun yang akan datang. Dan itu yang dikakukan Sukarno sejak dirinya menjadi pejuang kemerdekaan. Spirit inilah yang kemudian menjadikannya mampu membaca peluang kemerdekaan yang kemudian ditularkan kepada para pejuang lainnya kala itu, sehingga Indonesia betul-betul merdeka.

Revolusi mental ala Bung karno adalah spirit perjuangan para pemimpin yang harus melayani rakyat,”kalam hikmah” yang selalu disampaikan Sukarno bahwa Pemimpin adalah abdi rakyat, mestinya menjadi cambuk bagi para pemimpin masa kini agar bisa meneladani semangat juang Sukarno terutama dalam melayani rakyat. Buku ini layak dibaca oleh para pemimpin negeri ini agar mereka paham bagaimana substansi revolusi mental yang sesungguhnya, agar di masa-masa yang akan datang pemimpin mampu hadir sebagai abdi rakyat. Selamat membaca.

Share:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *