Mengenal Sukarno dari Dekat

Oleh : Ridwan Nurochman

 Judul               : Membaca Sukarno dari Jarak Paling Dekat
Penulis             : Eddi Elison
Penerbit           : Imania
Cetakan           : Pertama, April 2019
Tebal               : 307 halaman
ISBN               : 979-602-7926-49-3

Sebagai seorang tokoh besar Sukarno tentu punya banyak hal menarik untuk diperhatikan, bahkan sampai hal-hal terkecil tentangnya. Lapisan-lapisan kehidupan sang Proklamator seakan tidak akan pernah habis untuk dikupas. Ada banyak buku yang membahas itu, tapi yang tentunya paling gurih adalah yang diceritakan langsung oleh Eddi Elison.

Buku ini menyodorkan sesuatu yang jarang diungkap penulis lain. Penulis mencoba menampilkan sisi humanis-perikemanusiaan dari kehidupan Bung Karno. Kita semua sadar bahwa humanisme lekat hubungannya dengan perilaku. Jika masalah humanisme dikaitkan dengan Bung Karno, jelas menggambarkan konsekuensi kejiwaan yang matang sebagai penggali Pancasila. Lebih lagi, Bung Karno adalah penganut agama yang taat.

Sukarno-Bung Karno lahir pada 6 Juni 1901 di Surabaya (sebagian mengatakan di Blitar). Ayahnya Raden Soekemi Sosrodihardjo adalah seorang guru, keturunan Sultan Kediri. Sementara ibundanya Ida Ayu Nyoman Rai seorang perempuan dari Bali, sering menceritakan kisah-kisah kepahlawanan kepada Koesno-nama kecil Sukarno.

Ketika muda, Bung Karno mondok (indekos) di rumah HOS Tjokroaminoto pemimpin Sarikat Islam. HOS Tjokroaminto adalah mentor politiknya yang pertama. Masa muda Bung Karno sudah dikitari oleh para pemimpin pergerakan di Sarikat Islam, seperti Semaun, Agus Salim dan Kartosoewirjo. Sering mendengar diskusi para pemimpin pergerakan, akhirnya membuat kematangan Bung Karno tertempa di dunia perpolitikan. Pak Tjokro adalah orang yang mengubah seluruh kehidupan Bung Karno. Pengaruh Pak Tjokro dalam kehidupan Bung Karno begitu besar. Dari Pak Tjokro Putra Sang Fajar belajar bagaimana berpidato. Namun, Bung Karno menambahkan intonasi dan penekanan, sehingga tidak monoton seperti pidato pemimpin Sarikat Islam tersebut.

“Dalam interaksinya dengan Pak Tjokro, Sukarno muda tidak hanya menyerap pelajaran politik, tetapi juga sosial dan ekonomi. Ini mengingat Serikat Islam yang didirikan Pak Tjokro pada tahun 1912-yang merupakan pengembangan Sarikat Dagang Islam-berciri nasionalis, demokratis, relegius, dan ekonomis untuk menandingi gerakan dagang yang dikuasai pedagang-pedagang Cina” (hal.86)

Ketika dibuang di Ende, Bung Karno menghasilkan karya intelektual dan spiritual yang gemilang. Ini adalah masterpiece filsafat dan politiknya, yang kemudian dikenal dengan Pancasila. Di Ende, Bung Karno banyak bermeditasi dan melahirkan cikal-bakal konsep Pancasila, dasar negara Indonesia.

Baik sebelum maupun setelah menjadi presiden, dalam kesehariannya, Bung Karno selalu berpakaian rapi dan parlente. Tetapi, penampilan tersebut berkebalikan dengan kondisi kantongnya. Bung Karno pernah dijuluki sebagi presiden termiskin oleh wartawan. Suatu kali, Bung Karno pernah minta ditalangi dulu oleh seorang wartawan, saat membeli rambutan. Bung Karno menempatkan wartawan sebagai mitra juang sejak zaman revolusi. Bung Karno memiliki perhatian yang khusus kepada juru warta. Misal Adam Malik, SK Trimurti yang pernah diangkat sebagai menteri.

Bung Karno adalah sosok pemaaf. Begitu banyak orang-orang yang telah mengkhianati dirinya dan negara. Tapi Sukarno tetap memaafkan mereka. Pun, kepada orang yang pernah mencoba untuk membunuhnya. Menurutnya, dalam politik boleh tidak sepaham, tetapi hubungan pribadi harus dipertahankan. Sungguh, seorang pemaaf yang tulus. Namun, ketika berbicara tentang rakyat, justru Bung Karno-lah yang kerap meminta maaf. Sebab, dia sadar ada banyak dosanya kepada rakyat.

Bung Karno kerap melakukan blusukan meniru Harun Al Rasyid, Khalifah ke-5 Dinasti Abbasiyah. Meski tanpa pengawalan, Bung Karno secara diam-diam meninjau untuk mengetahui keadaan-kehidupan rakyatnya secara langsung. “Jika blusukan pada siang hari, Bung Karno sengaja menyamar. Tidak berpeci, berbaju tangan pendek, dan tidak pakai sepatu. Biasanya, kalau siang, Kombes Mangil ikut serta. Ia juga menyamar dengan pakaian sipil, tetapi menggiring dengan mobil” (hal.139)

Kecintaan Bung Karno terhadap Republik ini selalu bersemayam dalam jiwanya. Bung Karno meninggalkan warisan yang amat berharga bagi bangsa Indonesia, sebuah falsafah-dasar negara pengikat kemajemukan bangsa, Pancasila.

Bagi Bung Karno, diasingkan ke pulau terpencil merupakan kekejaman yang mengganggu pikirannya. Namun, dikucilkan politik dan dijauhkan dari rakyat adalah hal yang menyakitkan. Dihukum oleh rakyatnya. Dihukum di negara yang dulu dimerdekakan bersama Bung Hatta, membuatnya jatuh sakit dan akhirnya wafat. Di hari-hari terakhirnya, Bung Karno sempat menuliskan kalimat filsuf Jerman Ferdinand Freiligrath di dalam buku catatannya “Man toten den Geist nicht” ( tak ada yang bisa membunuh jiwa ).

Dimuat di Harian Bhirawa, 5 Juli 2019, http://harianbhirawa.com/mengenal-sukarno-dari-dekat/

Share:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *