Sejarah Islamisasi Hingga Lahirnya Islam Nusantara

Oleh  : Ridwan Nurochman

 

Judul               : Buku Pintar Islam Nusantara
Penulis             : Muhammad Sulton Fatoni
Penerbit           : Pustaka Iman
Cetakan           : Pertama, Juni 2017
Tebal               : x + 228 halaman
ISBN               : 978-602-8648-22-6

Sebelum agama Islam masuk dan berkembang di Nusantara, orang Nusantara telah menganut agama Hindu-Budha. Namun, jauh sebelum Hindu-Budha datang, orang Nusantara telah memiliki kepercayaan yang merupakan agama atau kepercayaan Jawa asli. Agama ini adalah agama kuno yang disebut dengan Kapitayan. Orang Jawa meyakini bahwa penganjur Kapitayan adalah Dahyang Semar yang masih keturunan Sanghyang Ismaya.

Memasuki abad ke 6-7 Masehi, orang Nusantara mulai mengenal Islam terutama masyarakat Sriwijaya, sebab penguasa Sriwijaya telah menjalin kerjasama dengan Dinasti Umayyah. Meskipun demikian, baru pada abad 14-15 Masehi agama Islam menyebar dan banyak dianut oleh orang Nusantara melalui dakwah Walisongo. Agama Islam dengan cepat diserap ke dalam asimilasi dan sinkretisme Nusantara. Beberapa faktor yang menyebabkan kenapa Islam dengan cepat tersebar di Nusantara di antaranya adalah Islam sangat menjunjung tinggi egaliter, para penyebar agama Islam adalah penganut paham Aswaja yang memiliki watak arif dan bijaksana, dan yang terakhir Islam disampaikan dengan damai dan menghormati nilai-nilai leluhur dengan cara meluruskan nilai yang bertentangan dengan Islam.

Melalui proses Islamisasi yang damai, islam dengan mudah menyebar hampir ke seluruh penjuru Nusantara. Hingga akhirnya lahir ulama-ulama yang menguasai berbagai keilmuan dunia Islam. Mereka (Ulama) senantiasa menjaga mata rantai keilmuan yang ujungnya dari Rasulullah. Kiai Nusantara senantiasa mempunyai tradisi dan keilmuan yang kuat tidak lepas dari ketekunannya menjaga ilmu keislaman, terutama memilih guru yang sanad dan transmisi keilmuannya sambung kepada Rasulullah SAW. Di antara kiai-kiai Nusantara yanh transmisi keilmuannya sambung kepada Rasulullah adalah Kiai Cholil Bangkalan dan Kiai Mahfudz Termas. Begitupun kiai-kiai di Sumatra dan Kalimantan, bila dilihat mata rantainya akan sampai pada Kiai Mahfud Termas.

Selain selalu menjaga mata rantai, Kiai (ulama) Nusantara juga meneguhkan ritus masyarakat dengan mendirikan tarekat-tarekat. Di antaranya ada tarekat Qadariyyah dan Naqsabandiyyah. Peranan kiai Nusantara bukan hanya dalam melahirkan santri-santri yang cakap dalam beragama, melainkan memupuk rasa cinta terhadap tanah air. Sehingga lahirlah pusat pendidikan nasionalisme yang diberi Nahdlatul Wathan artinya Kebangkitan Tanah Air.

Melihat kondisi dunia yang semakin tidak kondusif, kiai-kiai Nusantara berkeinginan untuk mendirikan Nahdlatul Ulama atau Kebangkitan Ulama. Kehadirannya dimaksudkan untuk mengokohkan pola berislam yang memegang teguh salah satu dari imam mazhab empat sehingga tercipta kemaslahatan dalam beragama. Selain itu, juga untuk menambah spirit baru bagi gerakan nasionalisme.

“Masyarakat muslim yang selama ini mendapat serangan gencar dari kelompok muslim modernis kembali mendapatkan pijakan kuat bahwa pola keberagaman mereka selama ini sudah benar dan tidak keluar dari koridor ajaran Islam. Pola berislam masyarakat Nusantara yang bertaklid dengan segala kekayaan tradisi dan budayanya secara otomatis mendapatkan legitimasi kuat Islam itu sendiri” (hal.66)

Para kiai NU juga mengingatkan Umat Islam untuk tidak terjebak dalam simbol-simbol dan formalitas nama yang tampak islami, tetapi wajib berkomitmen pada substansi nilai segala sesuatu. Suatu ketika Gus Dur pernah mengatakan:”Islam datang bukan untuk mengubah budaya leluhur kita jadi Arab. Bukan ‘aku’ jadi ‘ana’, ‘sampeyan’ jadi ‘antum’, ‘sedulur’ jadi ‘akhi’… Kita pertahankan milik kita, kita harus serap ajarannya, tapi bukan budaya Arabnya”.

Hingga muncul wacana tentang ‘Islam Nusantara’, pada Muktamar NU ke-33 di Jombang. Islam Nusantara sejatinya adalah komparasi dari Islam Jalan Lurus atau Islam: Shiratal Mustaqim. Atau pada padanan lainnya adalah ‘Islam Rahmatan lil ‘Alamin’.
Artinya terma Islam Nusantara sangat tidak tepat jika dianalisa dengan pandangan ilmu linguistik Arab teori nisbat. Sebab kata Nusantara dalam rangkaian ini artinya menunjukkan tempat yang menerangkat di mana penghuninya memeluk agama Islam.

Maka yang harus dipahami dan diperhatikan bahwa Islam Nusantara bukan ‘agama baru’. Bukan aliran baru, melainkan wajah keislaman yang ada di Indonesia. Yang mana praktik keislamannya tercermin dalam perilaku yang moderat, seimbang dan toleran. Semoga tidak lagi ada yang gagal paham perihal terma ‘Islam Nusantara’, apalagi menuduhnya sebagai pendistorsian dan pendangkalan Islam.

Dimuat di Radar Mojokerto, 15 Juli 2019

Share:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *