SEJARAH POLITIK WALI SONGO DI NUSANTARA

Judul Buku: Atlas Wali Songo

Penulis: Agus Sunyoto

Penerbit: Pustaka IIMaN

Cetakan: VII Januari 2018

Tebal: 486 halaman

ISBN: 978-602-8648-18-9

Peresensi: Ashimuddin Musa*

Wali Songo selalu menjadi topik hangat yang terus diperbincangkan dalam kajian sejarah Islamisasi Nusantara. Sebagian mereka ada yang mendukung sebagian lagi menolaknya. Mengapa mereka menolak? Menurut Agus Sunyoto, penulis buku ini, karena bagi mereka sejarah adalah hanya  hasil konstruksi para elite pemenang. Sebuah argumentasi kontroversial.

Sebagai bentuk penolakannya, terbit beberapa buku sanggahan terhadap sejarawan yang mendukung keberadaan peran Wali Songo ini. Di antaranya tulisan Sjamsudduha berjudul “Walisanga Tak Pernah Ada?” Yang berisi asumsi-asumsi argumentatif yang menjelaskan bahwa Wali Songo tidak pernah ada. Kemudian, gugatan lain juga muncul dari sekelompok intelektual yang tulisan-tulisannya mengingkari keberadaan Wali Songo dari ranah sejarah. Tulisan-tulisan tersebut dikodifikasi dalam Ensiklopedia Islam terbitan Ikhtiar Baru Van Hoeve.

Buku Atlas Wali Songo yang ditulis oleh Agus Sunyoto adalah buku pertama yang mengungkap Wali Songo sebagai fakta sejarah. Di dalamnya diuraikan bukti-bukti faktual terkait sejarah berkembangnya Islam di Nusantara dengan penuh ketelitian dan kehati-hatian. Melalui proses jangka panjang akhirnya buku ini diterbitkan oleh penerbit pustaka IIMaN bekerjasama dengan LESBUMI PBNU, yang saat ini sudah memasuki cetakan ke (viii).

Agus Sunyoto dalam buku ini memberikan peta perjalanan para pendakwah Islam yang dibawa oleh kaum muslimin dari Arab, India dan China melalui kontak perdagangan. Dari sini, para pedagang muslim, selain ada tujuan untuk berdagang ke kawasan Asia Tenggara, mereka juga memiliki gairah (spirit) serta komitmen yang kuat untuk menegakkan amar ma’ruf nahi mungkar dengan keteladanan moral, kasih sayang, kedermawanan, toleransi, pendekatan persuasif, dan penampilan beberapa karamah (hlm. 47).

Islam yang dipromosikan Wali Songo adalah Islam rahmatan lil alamin: sebagai rahmat nagi seluruh alam. Bagaimana Islam dengan konsep demikian  ini? Ada etika khusus yang begitu melekat pada diri para Wali ketika menanamkan Islam di bumi Jawa. Islam yang dibawanya merupakan kontekstualisasi prinsip dasar ajaran Rasulullah Saw: mengajarkan kesejukan, damai, emansipatoris, toleransi, dan tidak membenci.

Dengan keteladanan moral, di samping karamah-karamah yang dimilikinya, menjadikan Islam begitu melekat dalam kehidupan penduduk Nusantara yang sudah mengalami proses Indianisasi. Pun demikian, mengembangkan pemahaman yang sepakat untuk mendamaikan dunia keilmuan dengan dunia politik serta spiritualitas guna membangun peradaban Islam, sehingga cocok dengan kondisi bangsa yang majemuk, dengan demikian maka ajaran yang mereka bawa adalah Islam Ahlussunah Waljamaah (hlm. xiii).

Menurut Sunyoto, dengan tidak menyertakan nama-nama para wali di dalam buku sejarah islamisasi Nusantara dengan pertimbangan berbeda faham dan aliran, tindakan seperti inilah, selain melakukan distorsi dan pemelintiran terhadap kebenaran faktual, juga mengakibatkan perpecahan karena pesan yang disampaikannya tidak lagi objektif, tetapi sudah bercampur dengan kepentingan politik kelompoknya.

Usaha penghapusan Wali Songo dalam penyebaran Islam di Nusantara, menurut Sunyoto, tidak bisa ditafsirkan lain kecuali merupakan usaha-usaha sistematis dari golongan minoritas untuk membasmi paham mainstream Islam Nusantara dengan cara menghapuskan keberadaan Wali Songo dari konteks sejarah.

Keberadaan Wali Songo dan para penguasa pesisir Utara Jawa yang muslim, tegas Sunyoto, tidak bisa diabaikan begitu saja dari proses masuknya nilai-nilai keislaman dalam kehidupan penduduk Majapahit yang sudah berpecah belah dalam konflik itu. Berkat perjuangan, kegigihan dan ketalatenan mereka menanamkan nilai-nilai Islam yang dikembangkan di era akhir Majapahit berdasarkan azaz keseimbangan dan keselarasan mampu membentuk karakter masyarakat yang Islami. Nilai-nilai keislaman oleh para wali diadopsi dari sumber primer Islam -Alquran dan Hadis- sehingga dengan demikian Islam dapat berjalan dengan damai tanpa intimidasi apalagi penuh paksaan (hlm. 446).

Membaca buku Atlas Wali Songo menarik untuk dipertimbangkan antara lain karena buku ini merekam beberapa data mulai dari sejarah Islam yang diklaim bermula dari tiga unsur pokok, yaitu Arab, India dan China, ke Nusantara: sekarang Indonesia. Dengan kemampuan menyajikan informasi faktual seputar strategi dakwah para wali menjadikan buku ini semakin melengkapi koleksi sejarah yang mau dihilangkan itu.

*Resensi dimuat di Harian Analisa edisi Jum’at 9 Agustus 2019.

Share:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *