Hamka Dalam Labirin Pustaka

Menurut Haidar Musyafa, Hamka menulis tidak kurang 120 buku. Selaksa buku ini mengabadikan tokoh Maninjau ini, dalam banyak aspek, hingga sekarang. Pendiri Panji Masyarakat ini sudah wafat setengah abad yang lalu, namun karyanya masih dicetak ulang dan dibaca oleh generasi sekarang. Buku terbaru Haidar Musyafa ini juga banyak berutang jasa kepada pustaka yang ditulis Hamka tersebut. 

Hamka suka menulis, walau yang ditulis nampaknya “sepele”, sekadar catatan perjalanan misalnya Empat Bulan di Amerika.  Semua yang diamati di Amerika dia tulis, termasuk hal yang bersifat pribadi, yakni ketika dia ditawari wanita penghibur oleh petugas hotel tempat dia menginap seorang diri selama berbulan-bulan. Kelebihannya, Hamka tidak mencatat layaknya sejarawan yang mencatat fakta obyektif saja, melainkan ditambah dengan refleksi intelektual dan keagamaan sehingga menjadikan apa yang ditulis sebagai renungan inspiratif (halaman 484).

Jika dipetakan, berdasarkan amatan saya, buku-buku yang ditulis Hamka berasal dari empat  sumber, yaitu catatan pribadi – katakanlah begitu, majalah dan surat kabar, ceramah, dan buku tentang ilmu pengetahuan yang sengaja ditulis. Empat teknik tulisan inilah yang membuat Hamka prolifik sebagai penulis berbagai genre. Tafsir Al-Azhar misalnya yang berjumlah 30 jilid, sebagian besar bersumber dari pengajian tafsir di Masjid Agung Al-Azhar yang kemudian ditulis di Majalah Gema Islam. Novel-novel dan buku tasawufnya juga berasal dari kumpulan tulisan bersambung dari majalah yang dia asuh. Di luar tema serius, Hamka memilih menulis catatan pribadi yang mencakup pengalaman diri dan keluarganya.

Berkat buku yang ditulisnya, peraih gelar doktor kehormatan dari Universitas Al-Azhar ini gagal bunuh diri saat mendapatkan siksaan luar biasa dalam penjara rezim Soekarno. Untunglah dia ingat buku yang dia tulis. Buku itu menjadi nasihat efektif agar bisa melanjutkan hidupnya di bawah tekanan teror tak terperikan. Buku, bagi Hamka, tidak hanya melawan lupa, juga untuk melawan putus asa. “Hamka menang, di antaranya, karena teringat nasihat-nasihat hidup dan kebahagian hidup yang ditulisnya dalam Tasawuf Modern,” tulis Haidar Musyafa (halaman  367).

Dalam buku Haidar ini, buku catatan pribadi Hamka, seperti Ayahku dan Kenangan-Kenangan Hidup, menjelma sumber utama penulisan kisah kehidupan pribadi Hamka. Tanpa buku-buku tersebut, mungkin tak akan ada yang tahu bahwa  Hamka yang dikenal publik sebagai ulama kharismatik, dulunya adalah anak nakal yang sering  berkelahi, mencuri buah milik tetangga, bolos sekolah, pandai menulis surat romantis buat para gadis dan juga pernah patah hati karena cinta. 

Catatan pribadi itu juga mengungkap “sisi gelap” keluarga Hamka. Misalnya, ayahnya – Haji Rasul – yang kurang perhatian karena banyak istri, cendekiawan yang terbelenggu tradisi Minang, dan pernah impoten; ibu Hamka – Shafiyah-  yang temperamental; dan perceraian ayah-ibunya yang menggoncangkan jiwa Hamka yang saat itu berusia 12 tahun. Haidar juga menceritakan masa kecil Hamka yang bahagia saat membaca buku di perpustakaan gurunya daripada belajar di sekolah atau tinggal di rumah.

Catatan harian pribadi Hamka tersebut, selain mengandung informasi historis tentang pasukan Paderi, pergerakan Islam di Sumatera, juga berisi pandangan reflektif yang kelak turut membentuk cara berpikirnya membangun rumah tangga. Hamka tidak sudi berpoligami karena tahu bagaimana derita anak yang ayahnya berpoligami. Dia juga paham derita istri yang dimadu dan anak yang kurang mendapatkan perhatian. Sebab itu Hamka, di tengah kesibukannya yang luar biasa padat, berhasil membangun keakraban dengan istri dan anak-anaknya. 

Haidar juga mengutip pemikiran Hamka untuk menjelaskan posisi Hamka sebagai seorang pembaharu yang acapkali diselewengkan oleh sementara pihak untuk kepentingan tertentu. Haidar secara personal nampaknya tidak terima jika Hamka disebut-sebut ikut tarekat Naqsabandiyah oleh beberapa kalangan. Tarekat bertentangan dengan pemikiran para pembaharu. Ini bisa dilihat dari usaha Haidar untuk mencari informasi demi menepis beberapa kajian akademik yang mengklaim bahwa Hamka pernah berbaiat kepada Mbah Anom, mursyid Naqsyabandiyah. Begitu juga soal Hamka yang disebut pernah bertahlil, dinegasikan oleh Haidar dengan beragam informasi yang dia dapat dari referensi dan keluarga besar Hamka sendiri.

Haidar berusaha untuk membersihkan Hamka dari klaim-klaim sepihak yang bisa meruntuhkan perjuangan Hamka sebagai ulama pembaharu. Dahulu kala, Hamka sendiri membersihkan namanya – lewat beragam tulisan dan orasinya – atas tuduhan terhadap dirinya saat dekat dengan Jepang, sewaktu menjabat sebagai ketua MUI, dan terhadap tuduhan keji bahwa dirinya adalah plagiator dan pengkhianat negara. Haidar adalah perpanjangan tangan dari Hamka yang tidak ingin prasasti perjuangan putera pejuang Paderi ini runtuh sebab tuduhan negatif serupa.

Menarik juga ulasan Haidar tentang pandangan Hamka soal Wahabi, sebuah ideologi yang saat sekarang di Indonesia menjadi paham yang “dinegatifkan” oleh Nahdlatul Ulama, salah satu ormas besar di Indonesia. Ormas ini juga mengaitkan Wahabi dengan Muhammadiyah, ormas yang ikut dibesarkan Hamka. Hamka mengulas tentang Wahabi dari aspek historis, teologis, dan sosiologis. 

Jauh sebelum kemerdekaan bangsa ini, tepatnya pada tahun 1801, kata Hamka, ajaran pembaharuan yang diprakarsai Muhammad bin Abdul Wahab tersebut sudah dibawa ke Nusantara oleh beberapa tokoh yang belajar di Mekkah, misalnya Haji Abdurrahman, Haji Mohammad Haris, dan Haji Miskin. Syaikh Ahmad Khatib Al-Minangkabawy, salah satu guru ulama Nusantara adalah pendukung Wahabi. Murid-muridnya – pada fase kedua- yang menyebarkan Wahabi di Sumatera.

Gegara gerakan Wahabi ini, secara teologis, tidak hanya berhasil mengembalikan umat Islam kepada Allah dan syariat Islam, namun juga, secara sosiologis, membebaskan mereka dari kolonialisme. Ada kausalitas antara gerakan purifikasi tauhid dengan kemerdekaan. Kebangkitan Arab – kata Hamka – disebabkan Wahabi. Perang Paderi melawan penjajah Belanda juga dinyalakan paham wahabi. Perpaduan keislaman dan pembebasan dalam ajaran Wahabi, membuat banyak pihak takut. Kolonialisme melabeli pasukan Paderi sebagai pemberontak. Komunisme menjelekkan Wahabi. Jadi, kata Hamka, kebencian kepada Wahabi sudah ada sejak dulu dan ia dilontarkan oleh yang tidak ingin masyarakat merdeka dan umat Islam berkembang maju (halaman 35).

Hamka berkali-kali mendapatkan perilaku buruk dari pihak-pihak yang tidak suka pada perjuangannya. Haidar mengatakan bahwa Hamka termasuk pribadi yang tegas, bahkan bisa dikakakan keras saat berhadapan dengan kebatilan. Sikap ini ditampilkannya dalam segala situasi. Misalnya, dalam soal syaikh haji yang menipu jamaah haji. Hamka yang paham menentangnya secara frontal, di depan hidung sang sheikh sehingga yang bersangkutan kelabakan dan mengalah. Begitu juga saat berhadapan kaum komunis, zending alias misinoris, atau Presiden Soekarno sekalipun yang otoriter.

Wajar jika banyak pihak yang membencinya. Kebencian itu disampaikan lewat beragam cara yang sekiranya bisa menghancurkan martabat dan kredibelitas Hamka. Haidar mengisahkan beragam fitnah yang dialami Hamka. Hamka tentu saja menderita, sangat menderita malah. Herannya, Hamka sangat lapang dada sehingga tidak ada dendam terhadap mereka yang memusuhinya. Dia memaafkan dan tetap menghormati Soekarno yang pernah menyiksanya dalam penjara. Dia juga membantu Pramoedya Ananta Toer saat memintanya mengajarkan Islam kepada anak dan menantunya. Padahal, pemilik harian Bintang Timur lewat rubrik Lentera di surat kabar itu menuduh Hamka sebagai plagiator sehingga sekian lama Hamka jadi bulan-bulanan media. Begitu juga Mohammad Yamin, yang membenci Hamka akibat konfrontasi keras di Sidang Paripurna Konstituante, tetap Hamka hormati dan kabulkan permintaan terakhirnya (halaman 308).

Nampaknya, urusan politik yang membuat kawan-kawan seperjuangan memusuhi Hamka. Namun, dalam urusan di luar politik, mereka mengakui kealiman dan keikhlasan Hamka sehingga di titik nadir mereka dengan sepenuh hati mendekati Hamka. 

Haidar Musyafa tentu memiliki misi dalam menulis buku ini. Dia tidak hadir sebagai penulis bebas nilai dan kepentingan. Dalam menulis Hamka, benaknya bukanlah tabula rasa yang secara objektif memaparkan apa yang dikatakan data sejarah. Sebelum menulis buku ini, dia telah lama mengenal dan menghormati Hamka. Ada nilai yang sama dan perjuangan serupa antara Hamka dan Haidar Musyafa. Maka saat melihat persoalan kotroversial, Haidar terkesan berat sebelah. Dia memihak pada Hamka dengan hanya mengambil sudut pandang Hamka dan data-data yang mendukung Hamka daripada beragam pandangan yang menyudutkannya.

Tentang Wahabi, kasus plagiasi, kedekatan Hamka dengan Jepang, Hamka yang lebih cenderung pada syariat Islam dan menegasikan Pancasila, atau masalah komunisme dibahas dalam buku ini berdasarkan pandangan Hamka semata atau data sejarah yang mendukungnya saja. Sedangkan data lain dinegasikan. Jikalau ada, misalnya dalam persoalan plagiasi, itu pun kemudian dipatahkan begitu saja dengan data-data yang mendukung Hamka, tanpa analisis lebih mendalam sehingga akhir paragraf memberikan simpulan tentang kebenaran di pihak Hamka.

Sebagai buku kumpulan esai-esai naratif-biografis, bukan buku sejarah murni, perihal demikian tentu tidak jadi masalah. Sebab tujuan akhir dari buku ini adalah untuk mengetengahkan nilai keteladan Hamka sebagai pribadi yang layak dikagumi. Haidar nampaknya memang tidak sepenuhnya hendak mengetengahkan sejarah Hamka, melainkan lebih pada maksud untuk menyajikan Hamka yang layak ditiru dari segi pemikiran, sikap, kepribadian, religiusitas, dan literasi. 

Sepanjang penyajian kisah tidak berdasarkan cerita rakyat atau bahkan hoax, tentu hal demikian sangat diapresiasi. Kerja intelektual Haidar ini layak dipuji sebab dia merangkai pemikiran dan kisah Hamka berdasarkan sekitar seratus referensi yang diambil dari buku dan jurnal. Referensi tersebut tidak hanya didedah sebagai lampiran bibliografi, melainkan dalam bentuk anotasi sehingga nilai keilmiahannya teruji. Haidar nampaknya tidak hanya ingin memahami Hamka, melainkan mengaguminya, malah hendak mengekspresikan kekagumannya berdasarkan data, untuk membuktikan bahwa Hamka memang layak dikagumi dan diteladani, tidak saja oleh dirinya, tapi oleh pembaca.

Menurut saya, Haidar berhasil mengolah beragam referensi itu mejadi tulisan hidup yang bisa membangkitkan emosi dan pikiran pembaca. Tidak bosan membacanya. Sungguh! Haidar memainkan kutipan langsung dengan kutipan tidak langsung secara apik. Alur berkisahnya tidak bertele-tele. Walaupun dia agak lebai karena memberi subjudul the untold stories untuk semua tulisannya dalam buku ini. Soalnya, semua cerita dalam buku ini sudah lama diceritakan dalam banyak buku baik yang ditulis Hamka sendiri, anak-anak Hamka atau peneliti Hamka. Haidar hanya menulis ulang, mencatut dari satu buku ke buku yang lain. 

Penulis: Habibullah, Juara 2 Lomba Menulis Resensi Suka-Suka Buku Buya Hamka: Sebuah Novel Biografi dan Memahami Hamka: The Untold Stories terbitan Penerbit Imania.

Share:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *