Jejak Juang Sang Pembaharu

“Wah, tebal banget.” Komentar saya saat melihat buku ini, membuat malas membacanya. Namun, setelah membaca prolog saya menjadi penasaran. Ada apa ya …  Hamka dengan Bung Karno? Dengan menggunakan alur maju terus pantang mundur, buku ini tidak membosankan, karena penulis mampu membuat sub-sub judul yang menggelitik rasa penasaran saya.

Buku ini terdiri dari 30 bab, diawali dengan prolog yang menyisakan tanya. Pertanyan yang  mengantarkan pembaca pada perjalan panjang seorang Buya Hamka. Buya Hamka terlahir dengan nama Abdul Malik, mempunyai garis keturunan ulama yang kuat, dan terhormat. “Meskinpun  kehidupan keluargaku terbilang sangat sederhana, tapi aku terlahir dari keturunan keluarga yang berstatus sosial tinggi di lingkungan masyarakat Minangkabau. Ayahku Abdul karim bin Amrullah, atau biasa disebut Haji Rasul, adalah seorang laki-laki yang berasal dari keturunan ulama”. (Halaman 23).

Buku ini menyibak sisi lain seorang Buya Hamka, dalam pandangan saya seorang ulama pastilah dulunya selalu menurut, patuh pada orang tuanya. Namun tidak dengan Hamka. Dalam buku ini diceritakan, Abdul Malik termasuk anak yang susah diatur. Saat teman-temannya asyik belajar, ia malah asyik mendengarkan Kaba, atau menonton film di bioskop.  Bahkan ia pernah terlibat dalam judi sambung ayam, yang membuat uang bekal dari ayahnya  habis. Akibat kenakalannya ia harus beurusan dengan preman pasar.

Membaca buku ini kita akan disuguhi kisah pilu seorang Abdul Malik. Penderitaan demi penderitaan harus ia alami sejak masih berusia belia sampai ketika ia sudah berusia lanjut. Berbagai fitnah mengoyak kehidupan Abdul Malik. Ia pernah difitnah bersekongkol dengan Jepang dan menjual gadis-gadis sebagai pemuas nafsu para petinggi Pemerintah Dai Nippon. Abdullah SP dan Pramoedya Ananta Toer bahu membahu melempar fitnah, menuduh ia seorang plagiat. Ia juga dituduh aktif sebagai anggota Gerakan Anti Sukarno (GAS), yang mengantarkannya pada hotel prodeo. Ketika Hamka menjabat sebagai ketua umum Majelis Ulama Indonesia (MUI), ia dituduh sebagai ulama yang mendukung kristenisasi.

Tak salah bila Hamka dijuluki seorang aotodidak. Ia tidak pernah menamatkan pendidikan formalnya, sehingga ia tidak memilik ijazah. Hal itu yang membuat ia ditolak menjadi guru. “Dalam perjalanan itu, ingatanku kembali menangkap tentang peristiwa yang  juga membuat hatiku hancur berkeping-keping, yaitu saat orang-orang Muhammadiyah di Minanjau itu menolak aku menjadi guru hanya karena aku tidak memiliki ijazah sekolah formal”. (Halaman 233)

Merdeka belajar, itu yang diinginkan Hamka, ia belajar dengan caranya sendiri. Ia berguru langsung kepada orang-orang yang memang berkompeten di bidangnya. Ia belajar sosiologi pada Raden Mas Soerjopranoto, belajar tafsir Al-Quran dari Ki Bagoes Hadikoesoemo. Memperdalam aqidah dari Kyai Haji Fachrudin. Ia juga menjadi murid termuda HOS Tjokroaminoto. 

Atmofer haru, bangga terasa ketika  “melihat” Hamka, didulat menyampaikan pidato dalam pertemuan tokoh-tokoh Islam, yang tergabung dalam organisasi Asy-Syubbanul Muslimun dan Mu’tamar Islamy di Universitas Al-Azhar Kairo. Karena dedikasinya yang luar bisa pada da’wah Islam Universitas tertua di dunia Al-Azhar memberikan gelar kehormatan Doktor Honoris Causa. Gelar kehormatan Doktor Honoris Causa juga ia peroleh dari Universitas Kebangsaan Malaysia. Gelar tersebut semakin mengukuhkan Hamka sebagai tokoh yang berpengaruh. Tuan Abdul Razak berkata dalam pidato ilmiahnya,”Hamka bukan saja milik bangsa Indonesia, tapi juga kebanggan bangsa-bangsa Asia Tenggara. (Halaman 774)

Buya Hamka dikenal seorang pujanga dan jurnalis. Kecintaannya pada dunia tulis menulis, mulai terasah ketika ia bertemu dengan A.Hasan dan Mohammad Natsir, pemilik surat kabar Pembela Islam. Dari mereka Abdul Malik banyak belajar seluk beluk kepenulisan. Karya tulis pertama yang dibukukan adalah kumpulan pidatonya. Dibukukan dan diberi judul Khattib al-Ummah. Kemampuan menulis yang semakin terasah mengantarkan Abdul Malik menjadi seorang wartawan di Surat Kabar Harian Pelita Andalas. Dari sinilah nama pena HAMKA muncul. “Nama pena itu adalah akronim dari namaku sendiri, yaitu Haji Abdul Malik Karim Amrullah.” (Halaman 262).

Dari tangan dinginnya, ia telah membidani lahirnya beberapa majalah. Majalah Kemauan Zaman, merupakan majalah yang diterbitkan untuk mendukung kinerja Pimpinan Muhammadiyah Cabang Padang Panjang, dan Hamka menjadi Pemrednya. Ketika ia ditugaskan oleh Pimpinan Pusat Muhammadiyah untuk membina kader-kader Muhammadiyah di tanah Bugis, Hamka bersama Haji Abdullah menerbitkan majalah Al-Mahdi. Kepiawiannya sebagai seorang pemimpin redaksi memikat Haji Asbiran Yaqub dan Muhammad Rasawi hingga mereka meminang Hamka. Mereka meminta bantuan Hamka untuk membesarkan majalah Pedoman Masyarakat. Lagi-lagi keuletan Hamka membuahkan prestasi yang luar biasa. “Dalam penerbitan majalah mingguan yang didirikan oleh Haji Asbirin Yaqub dan Muhammad Yunan Nasution itu, aku pernah mencapai oplah cetak 5.000 eksemplar. Jumlah penerbitan majalah mingguan yang sangat besar sekali pada saat itu.” (Halaman 381).

Dimasa kemerdekaan Hamka berhasil menerbitkan majalah Mimbar Agama, yang diterbitkan oleh Kementrian Agama Islam. Selain itu ia juga menerbitkan Majalah Panji Masyarakat, majalah Islam yang diterbitkan bersama Kyai Haji Faqih Usman, Haji Muhammad Joesoef Ahmad dan Joesoef Abdoellah Poear. Namun majalah ini pada akhirnya dibekukan, karena dianggap membahayakan penguasa. Setelah Panji Masyarakat dibekukan, Hamka mendapat tawaran dari Jenderan Abdul Haris Nasution untuk membidani penerbitan majalah. Dari buah pikirnya lahirlah majalah Gema Islam. 

Kesibukan berda’wah dan mengemban berbagai jabatan tak membuat semangat menulisnya kendur. Dari tangannya lahir buku-buku roman maupun buku-buku pengetahuan lainya. Di bawah Lindungan Ka’bah, Tenggelammya Kapal Van Der Wick, Di Lembah Kehidupan, Merantau ke Deli merupakan karya-karya romannya yang tak lekang oleh zaman. Tafsir Al-Azhar menjadi karya fenomenal Hamka. Tafsir tersebut ia tulis ketika berada di penjara.

Bagian paling mendebarkan dan menguras emosi adalah, kisah ketika Hamka difitnah terlibat dalam Gerakan Anti Sukarno. Saya dapat merasakan kepedihan yang dirasakan oleh Hamka. Seorang ulama yang begitu dihormati, diperlakukan ibarat maling ayam. Dihujani dengan kata-kata tak pantas. Selain itu ia juga mendapat siksaan fisik, yang membuat tubuh tuanya semakin lemah.

Suasana tegang saat para tokoh bangsa yang harus bergerak cepat untuk memproklamasikan kemerdekaan bangsa Indonesia, tergambar nyata dalam buku ini. Membaca pada bagian ini, saya seperti melewati lorong waktu, kembali di bangku sekolah. Khusuk menghafal para tokoh BUPKI, PPKI, susah sekali masuk di kepala saya. Ah, andai buku sejarah ditulis seenak novel ini, tentu pelajaran sejarah, menjadi pelajaran yang menyenangkan. Membaca novel ini mendapat bonus, belajar sejarah. Yah karena sosok Hamka tidak bisa dilepaskan dengan sejarah bangsa Indonesia.

Kecintaan Hamka kepada bangsa tak diragukan lagi. Ketika Belanda melakukan agresi militer I dan II, ia terpanggil untuk berjuang mempertahankan kemerdekaan. Sebagai ulama ia berada di garda depan. “Mengingat kedudukanku sebagai Pimpinan Muhammadiyah, maka aku juga sering ditugaskan menjadi penghubung antar para ulama dan pejuang yang ada di Sumatera Barat dan Medan.” (Halaman 474). Kiprahnya di medan perang mengantarkan Hamka memegang peranan strategis memimpin pasukan. Tercatat ia sebagai ketua Barisan Pertahanan Nasional (BPN), Sekretaris Front Perthanan Nasional (FPN).

Tak lengkap rasanya jika novel tak dibumbui dengan kisah cinta. Dalam buku ini pun, mengungkapkan kisah kasih Hamka dengan gadis pujaannya. Sayangnya kisah cintanya selalu kandas. Ia beberapa kali ditolak oleh gadis-gadis Minang. 

Banyak keteladanan yang dicontohkan seorang Hamka dalam buku ini. Buya Hamka adalah seorang yang teguh memegang prinsip. Saat ditawari rumah oleh Presiden Sukarno, ia menolah, “Sudah menjadi prinsip hidupku bahwa selama masih memiliki kemampuan untuk melakukan sesuatu aku tidak akan merepotkan orang lain.” (Halaman 498). W o w, hebat, padahal waktu itu, ia sangat membutuhkan, sebab ia baru pertama kali menginjakkan kaki di Jakarta. 

Buya Hamka manusia langka. Disaat banyak orang berebut jabatan dan tunjangan, ia justru menolak. Prof. Dr. Mukti Ali Menteri Agama RI pada waktu itu, menawari Buya Hamka untuk menduduki jabatan sebagai Duta Besar Arab Saudi. Tawaran tersebut ditolak oleh Buya, ia lebih memilih membersamai umat Islam di masjid Al-Azhar. Begitu juga ketika ia ditawari menjabat sebagai ketua MUI (Majelis Ulama Indonesia), “Aku sudah mengatakan aku bersedia menerima amanah itu asalkan aku tidak diberi gaji dan tidak disediakan dana pensiun.” (Halaman 778). Masya Allah, pejabat sekarang ada tidak ya … yang seperti Buya Hamka?

Penderitaan demi penderitaan yang menempa Hamka, menjadikan ia tumbuh menjadi sosok yang arif dan ikhlas. Perlakukan buruk dari teman-teman dekatnnya tidak menumbuhkan benci dan dendam dihatinya. Ia iklhas memaafkan kesalahan orang-orang yang telah berbuat aniaya terhadapnya. Mohammad Yamin pernah berseteru dengannya dan mendiamkannya, karena perbedaan pandangan pollitik. Buya Hamka dengan ikhlas mendampingi Mohammad Yamin, di detik-detik terkhir hidupnya. Buya Hamka mentalqin dan memenuhi semua wasiat Mohammad Yamin.

Kegundahan hati Buya Hamka dapat terbaca dalam buku ini, saat Pramoedya Ananta Toer menabuh genderang perang dengannya. Pram menuduh Buya seorang plagiat.”Sebagai penulis, tentu saja aku menolak tuduhan itu. Sebab roman yang aku tulis memang bukan hasil mencuri ide dari novelSous Les Tilleuls yang ditulis oleh Alphonse Karr.” (Halaman 606). 

Tuduhan-tuduhan yang dilontarka Pram membuat Buya sakit hati, tapi dia tidak pernah mendendam kepadanya. Ia memaafkan Pram, dengan menerima kedatangan putri sulungnya, Astuti yang ingin belajar agama.

Pun ketika, asisten pribadi Presiden Soeharto, meminta Buya menjadi imam sholat jenazah Bung Karno, ia menyanggupi. Ia maafkan semua kesalahan Sukarno yang telah membuatnya menderita 2 tahun dalam penjara. Subhanallah, terbuat dari apa ya hati Buya?

Novel ini, menjadi buku yang disarankan untuk ditelaah oleh siapa saja yang ingin mengetahui lebih lengkap sosok Buya Hamka. Sedikit kritik, ada beberapa kalimat yang sering diulang-ulang yang membuat pembaca bosan. Kalimat, sejurus kemudian, waktu meluncur seperti peluru, istriku yang paras jelita. Adanya pengulangan kisah di Prolog, Kabar Duka dan Epilog.

Penulis: Siti Nurhayati, Juara 3 Lomba Menulis Resensi Suka-Suka Buku Buya Hamka: Sebuah Novel Biografi dan Memahami Hamka: The Untold Stories terbitan Penerbit Imania.

Share:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *