Sikap Toleran Hamka

Oleh: Ridwan Nurochman

Hamka bukan ulama biasa. Ia bukan mubalig ‘ala kadarnya’. Buya Hamka –biasanya ia disapa–adalah seorang ulama yang sangat toleran, diterima semua kalangan dan dihormati kawan. Dakwahnya luwes dan menyentuh semua kalangan. Ia juga bukan seorang fanatik. Buya Hamka tidak antipati terhadap kelompok yang berbeda cara ibadah, bahkan beda keyakinan. Mereka justru didekatinya, dirangkul untuk membangun keutuhan bangsa.

Celakanya, sosok toleran ini sering disalahpahami. Ceramah dan petuah bijaknya banyak dikutip demi tujuan politik remeh-temeh. Banyak yang salah kaprah menilainya, dengan menyangkanya sebagai ulama yang keras dan radikal atau pendakwah yang mementingkan golongannya. Padahal, Buya Hamka memiliki sikap yang lembut dan toleran. Santun dan teduh cara berdakwahnya, akrab dan hangat dengan kiai Nahdlatul Ulama, meski ia adalah tokoh yang besar dalam Persyarikatan Muhammdiyah.

Buku ini menyajikan pemikiran-pemikiran, serta mengungkap, mengklarifikasi dan melurukan kesalahpahaman tentang sosok Buya Hamka dari sumber tepercaya. Buku juga akan memandang Buya Hamka secara utuh dan meluruskan segala hal yang selama ini disalahpahami berbagai pihak, terutama tentang anggapan bahwa ia sosok yang kolot, fanafik dan tidak toleran terhadap kelompok yang berbeda apalagi yang beda keyakinan.

Mengenai sikap toleran, Buya Hamka tak perlu diragukan lagi, sebab ia sosok yang sangat toleran. Dalam suatu kesempatan, saat diminta Presiden Soeharto ceramah pada Hari Raya Idul Fitri 1969, Hamka menyampaikan agar umat Islam tidak mementingkan kelompoknya sendiri. Tapi, sebagai mayoritas di Indonesia, umat Islam harus juga memikirkan kepentingan orang lain dan melindungi agama lain dengan sebaik-baiknya.

Ia juga menekankan agar setiap orang berusaha mengedepankan sikap toleran, demi terciptanya kerukunan antar-umat beragama, sebagaimana yang dicita-citakan. Buya Hamka menguatkan pedoman toleransi antar-umat beragama ini dengan mengutip sebuah hadis yang intinya memerintahkan umat Islam agar mengedepankan sikap toleran kepada pemeluk agama lain. “Siapa saja yang menyakiti orang zimmi (minoritas) samalah dengan menyakiti diriku”.

Menurut Hamka, umat Islam tidak dilarang, bahkan sangat dianjurkan oleh Allah Ta’ala untuk bergaul dan menjalin hubungan baik dengan non-Muslim, selama mereka bisa sama-sama menghormati dan menghargai. Pendek kata, soal toleransi, Hamka membedakan yang berkaitan dengan akidah dan muamalah. Menurutnya, tidak ada toleransi dalam hal akidah. Keyakinanku adalah keyakinanku, dan kepercayaanmu adalah kepercayaanmu. Namun, dalam urusan muamalah toleransi adalah perkara yang wajib guna terciptanya kerukunan dan persatuan bangsa.

Demi terciptanya sikap toleransi dan hubungan yang baik antar-umat beragama, Hamka menandaskan, “Meskipun Islam memerintahkan pula supaya menyampaikan dakwah Islam kepada seluruh umat manusia, atau kepada siapa saja yang belum memeluk Islam, namun karena di dalam agama tidak ada paksaan adalah menjadi prinsip, maka Islam menciptakan kerukunan dengan penganut agama lain dan menggalang persatuan bangsa. (hal. 377)

Buya Hamka mengingatkan bahwa toleransi yang dimaksud bukan berarti orang yang sudah memiliki keyakinan harus pindah agama hanya karena menghormati orang yang mengajaknya. Juga bukan berarti harus turut mengikuti perayaan hari besar agama lain, karena ini bertentangan dengan akidah. Toleransi juga bukan berarti harus mengakui semua agama atau keyakinan adalah benar.

Toleransi yang benar adalah tetap pada keyakinan yang diyakini kebenarannya, namun tidak menghalangi penganut agama lain untuk mengakui kebenaran yang diyakininya. Dengan begitu, diharapkan seseorang memperoleh kebenaran dari suatu agama yang diyakininya dengan berdasar pada bisikan suara hatinya, bukan karena paksaan dari orang lain. (hal. 384) Terakhir, toleransi ini harus dimiliki oleh setiap individu, agar setiap orang bisa berlapang dada, rasional dan profesional dalam segala hal.

Dimuat di Radar Cirebon, 8 Agustus 2020

Share:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *