DIHANTAM HIPODERMIK, LUPA TABAYYUN

KITA sampai pada sebuah zaman di mana seluruh hal serba berkelindan. Mana yang benar dan salah serba kabur. Orang-orang terjebak dalam dalam permainan bahasa, logika, dan tampilan-tampilan palsu—termasuk dalam beragama—yang disuguhkan terus menerus oleh media. Manusia lengah, sementara iblis—dengan kekuatan pengaruhnya pada manusia-manusia yang sadar maupun tidak mulai mengikutinya—sedang memainkan perannya: membujuk manusia dengan cara yang paling halus dan ‘terlihat baik’.

Ia mengontrol pikiran manusia melalui… media! Tak bisa dipungkiri, media—terutama media sosial saat ini—berhasil mengambilalih kesadaran manusia modern, sebagaimana digambarkan oleh Avram Noam Chomsky, seorang profesor komunikasi dari Universitas Massachutes, Amerika, dalam bukunya: “Media Control: The Spectacular Achievements of Propaganda” yang terbit pada 1997. Kata Chomsky, ‘orang-orang yang punya kepentingan’ itu menghibur orang-orang awam hingga akhirnya mendoktrin pikiran tanpa disadari. Lalu ia mempersembahkan ekstase atau kemabukan pada konsumennya.

Sekarang ini orang-orang menghabiskan banyak sekali waktu bersinggungan dengan media modern. Televisi, bioskop, komputer, alat permainan, internet, bacaan fiksi, dan musik populer adalah bagian tak terpisahkan dari kehidupan manusia. Media tersebut menyuguhkan informasi yang terserap ke dalam pikiran manusia, baik secara sadar maupun tidak.

Informasi yang digerojokkan pada masyarakat itu berupa nilai moral, kebajikan, dan penjelasan perbedaan antara yang ‘benar’ dan ‘salah’ versi mereka, yang digunakan untuk ‘mengarahkan’ tatanan sosial dan ekonomi dalam kehidupan sehari-hari. Media memiliki peran besar membentuk landasan berpikir dengan memengaruhi pandangan setiap individu terhadap dunia dan segala hal yang ada di dalamnya.

Dengan semakin banyaknya media, tambah membanjirlah informasi. Manusia semakin bingung di dalam pusarannya, semakin gagap membedakan mana nyata dan mana maya. Kebingungan ini menjebak manusia dalam labirin waktu, yang kemudian secara tidak sadar menyeret orang-orang kita kembali ke masa lalu yang penuh kegelapan.

Sejarah Islam mencatat bahwa perselisihan dengan sesama Muslim akan berujung pada pertumpahan darah—apalagi bila Al-Quran dijadikan panglima politik. Kisah tentang perselisihan Bani Hasyim dengan Bani Umayah yang berujung pada terbunuhnya Sayidina Ali bin Abu Thalib pada suatu subuh pada 21 Ramadhan 41 H gamblang mencontohkan itu.

Penyebabnya adalah: perselisihan sesama Muslim, yang mana masing-masing pihak sama-sama mengacungkan Al-Quran sebagai pedang! Apakah kita ingin kembali ke masa itu dengan mengumbar lontaran-lontaran pedas pada sesama Muslim di media sosial? Tidakkah kita belajar? Tidakkah kita menjalankan perintah Rabb kita: iqra, bismirabbikaladzi khalaq?

Secara tidak sadar juga (atau bahkan disadari sepenuhnya?) kita kembali terlempar di masa lampau, di tahun 1920-an, ketika teori jarum hipodermik—yang dikenal juga dengan teori peluru dalam ilmu komunikasi—masih ampuh-ampuhnya. Teori ini adalah salah satu teori tentang efek media massa yang digagas oleh Harold Lasswell pada tahun 1920-an, ketika ia menulis buku “Propaganda Taechnique” di masa Perang Dunia I. Teori jarum hipodermik merupakan salah satu model komunikasi linear yang menitikberatkan pada kekuatan dominasi pengaruh media terhadap khalayak.

Menurut teori jarum hipodermik, pesan digambarkan seperti sebuah peluru ajaib yang memasuki pikiran khalayak, dan menyuntikkan ‘pesan-pesan khusus’. Teori ini juga menjelaskan bagaimana media mengontrol apa yang khalayak lihat dan dengar. Menurut teori ini, efek media terhadap massa bisa bersifat langsung atau tertunda di masa depan.

Istilah ‘jarum’ dan ‘peluru’ dipilih untuk menggambarkan ketidakberdayaan khalayak sebagai dampak adanya pendapat umum atau opini publik yang dibangun oleh media, sehingga menyebabkan perubahan perilaku pada khalayak. Teori jarum hipodermik dipengaruhi oleh aliran media behaviorisme pada sekitaran tahun 1930-an. Teori jarum hipordemik mengasumsikan bahwa pesan-pesan media itu seperti peluru yang ditembakkan dari senjata media ke dalam kepala khalayak. Ini adalah teori yang cukup efektif ketika masyarakat dunia masih “belum begitu cerdas”.

Dengan teori peluru ini pula Joseph Goebbels, propagandis Nazi itu, sukses menerapkan teorinya: Big Lie (kebohongan besar). Prinsip tekniknya adalah menyebarluaskan berita bohong melalui media massa sebanyak dan sesering mungkin, hingga kebohongan tersebut dianggap sebagai suatu kebenaran. Sederhana, namun mematikan. Banyak yang terbius jarum informasi bohongnya, hingga jutaan ras Yahudi tewas di jalan-jalan maupun kamp pengungsian di Eropa.

Tapi, bukankah kita sedang berada dalam masa damai? Kita tidak sedang berada dalam Perang Dunia I, kan? Kenapa teori peluru dan Big Lie tampaknya masih ampuh sekarang ini?

Seiring kian modernnya peradaban, semakin terbukanya akses informasi dan ilmu, bukankah masyarakat dunia ini (harusnya) semakin cerdas? Teori peluru efektif sangat ketika audiens atau publik belum mendapatkan ruang untuk timbal balik. Ketika komunikasi berjalan hanya satu arah. Bukankah kini ruang jawab itu terbuka lebar sekali? Kesempatan berkomunikasi dua arah—yang membatalkan kekuatan teori jarum hipodermik—terbuka sangat lebar. Tapi kenapa ruang itu tidak dimanfaatkan untuk adu argumentasi yang sehat, malah saling hujat karena informasi yang belum diklarifikasi ditelan mentah-mentah, dan dibedilkan sebagai peluru tajam pada lawan bicara?

Ironisnya, itu banyak terjadi pada ‘umat Islam’ (maaf, sengaja saya pasangkan tanda kutip karena maknanya yang semakin bias menurut saya), yang jelas-jelas punya ayat ini: “Yā ayyuhallażīna āmanū in jā`akum fāsiqum binaba`in fa tabayyanū an tuṣībụ qaumam bijahālatin fa tuṣbiḥụ ‘alā mā fa’altum nādimīn (Wahai orang-orang yang beriman! Jika seseorang yang fasik datang kepadamu membawa suatu berita, maka telitilah kebenarannya, agar kamu tidak mencelakakan suatu kaum karena kebodohan (kecerobohan), yang akhirnya kamu menyesali perbuatanmu itu).” (QS. Al-Hujurat: 6).

Umat lupa bertabayun. Lupa kroscek. Lupa klarifikasi dan verifikasi. Semua itu diabaikan karena sudah ‘kadung’ percaya bahwa yang menyampaikan informasi itu ‘sesama Muslim’ (sengaja saya kasih tanda kutip lagi) melalui “portal-portal berita religius” atau persebaran pesan di grup-grup agamais yang langsung di-nash “sudah pasti benar dan baik”. Tapi tidak ditabayyun dulu: apakah si penyampai pesan itu benar-benar “bermaksud baik”?

Racun internet ini menggejala makin luas karena masyarakat Indonesia adalah pengguna internet terbesar di Asia Tenggara, dan nomor enam di dunia.

Tabayyun itu perlu. Cek dan ricek sangat penting. Ini untuk menghindarkan agar kita tidak sekonyong-konyong terbius jarum atau tertembak peluru informasi yang datang menggeruduk dan mencelakakan kita pada akhirnya. Tabayyun itu semacam ‘anti-bius’ atau ‘penangkal peluru’, agar kita tidak menyesal lantaran menjadi korban informasi yang keliru. Kita bukan masyarakat masa lalu yang pasif menerima doktrin.

Agar bisa ber-tabayun, kita perlu memberi ruang dalam diri kita sendiri untuk menenangkan diri. Agar kita tidak selalu diamuk emosi akibat informasi yang belum pasti. Orang kalau sudah emosi sudah tidak mau lagi klarifikasi. Maka, ada baiknya tarik diri sejenak dari kegaduhan itu, tenangkan hati, dan buka kembali mushaf Al-Quran dengan ‘benar’. Jangan lupa bismillahirahmanirahim. Cermati perintah pertama Allah pada Muhammad: iqra’. Kita perlu mengembangkan kesadaran ‘membaca’—baik itu membaca teks, konteks, atau situasi. Membaca sebagai talâ, qara-a, dan ratala (soal tiga jenis membaca yang juga dijelaskan dalam Al-Quran ini, insyaAllah bakal kujlentrehkan di tulisan lain). Perintah ini berlaku sepanjang zaman, kok. Bukan hanya untuk zaman Nabi. Firman tuhan tidak tekekang oleh waktu dan ruang.

Marilah sejenak kita tarik diri dari dunia hiperealitas, lalu membiarkan hati dan akal kita untuk istirahat dan menyegarkan diri sembari mengingat-ingat Rahman dan Rahim-Nya. Mentas dari gelombang pasang informasi duniawi yang selalu memancing manusia untuk merasa jauh lebih baik dari saudaranya ini, dan menyatu dengan Dia Yang Maha Besar, Pengasih dan Penyayang. Hidupkan kembali zirkirmu. Dengan begitu kita akan sadar: kita itu kecil. Sangat keciiiiilllll… Apakah pantas kita sombong?

Untuk bisa benar-benar sampai kedamaian-Nya, tidak kesasar ke jalan iblis yang semakin halus memperdaya manusia, ya, harus melalui jalan yang benar. Harus sadar diri, sadar pangkat, sadar kedudukan. Sekali lagi, buang angkuhmu. Kembali belajar pada para ulama dengan benar, karena merekalah wasilah kita untuk mendapatkan ilmu yang mendekatkan kita dengan Allah dan Rasul.

Kita, umat awam ini, hanyalah “baterai telepon seluler”. Para ulama adalah charger kita. Nabi Muhammad Saw., sumber iman kita, “sumber listrik” kita, adalah gardu induk. Tenaga listrik yang begitu besar dari gardu induk disalurkan pada baterai melalui banyak transmisi yang menyesuaikan besaran listrik yang diperlukan, hingga akhirnya sampai ke charger dan mengisi ulang baterai sesuai dengan kapasitas energi yang dibutuhkan. Tidak lebih tidak kurang. Kalau langsung men-charge baterai ponsel ke gardu induk, ya, korslet. Meledak, hancur jadi debu.

Marilah kita sama-sama sadar diri dan situasi. Insya Allah, dengan begitu, kita bisa menjadi ahsani taqwim yang amanu wa shalihati sesuai dengan kapasitas dan kedudukan yang Allah takdirkan pada kita masing-masing. Mari kita bersama-sama menjaga keamanan dan kedamaian negeri ini, dengan membuang jauh-jauh kesombongan dan kegelap-mataan karena belum mampu menyaring informasi yang hadir kian bertubi.

Dengan begitu, insya Allah, kita tidak akan termasuk dalam golongan orang-orang yang korslet.*

Wallahu ‘alam bishshawab.(*)
Pustaka IIMaN

Share:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *