Menghidupkan Kembali Pak AR Fachruddin

Oleh: Sidiq Oktaviano

Buku Pak AR dan jejak-jejak bijaknya merupakan buku biografi yang ditulis oleh Haidar Musyafa. Buku ini dicetak pertama kali pada bulan April 2020 dengan tebal 460 halaman. diterbitkan oleh penerbit Imania. Haidar Musyafa terkenal dengan karyanya tetang biografi tokoh Nasional di antarnya Ki Hadjar Dewantara, Khmad Dahlan, Hamka, dan masih banyak lagi.

Haidar Musyafa kembali melahirkan sebuah buku biografi salah satu tokoh nasional, kali ini ia menulis biografi Pak AR Fachruddin. Ketua PP Muhammadiyah periode 1968-1990 dan merupakan ketua PP Muhammadiyah terlama dalam sejarah Muhammadiyah. Buku ini menjadi salah satu buku yang ditunggu pengagum Pak AR, meskipun sudah 25 tahun yang lalu Pak AR meninggal dunia, tapi sosok Pak AR masih dirindukan.

Haidar Musyafa mengemas kisah Pak AR dalam buku ini dengan begitu mengesankan. Melalui buku ini Haidar Musyafa akan mengaduk-aduk perasaan pembaca dengan menyelami kisah perjalanan hidup Pak AR. Dalam buku ini Haidar Musyafa seolah-olah menghidupkan kembali Pak AR fachruddin. Bahasa yang digunakan Haidar Musyafa mencirikan gaya bahasa seorang jwa yang sangat bersahaja, sangat cocok menggambarkan sosok Pak AR Fachruddin.

Haidar Musyafa dalam menulis biografi Pak AR dan jejak-jejak bijaknya menggunakan sumber yang autentik. Ia menggunakan berbagai buku dan wawancara dengan narasumber yang pernah berinteraksi langsung dengan Pak AR. Dokumentasi berupa foto-foto Pak AR yang berhasil ia kumpulkan juga disertakan dalam buku, menjadikan sosok Pak AR lebih hidup dalam buku ini. tak lupa ia juga menyertakan sumber-sumber yang ia gunakan.

Dalam buku ini juga disertakan komik dan foto-foto Pak AR yang akan menjadikan buku ini semakin menarik untuk dibaca.

Di halaman awal pembaca akan disuguhkan dengan komik percakapan PAk AR dan jamaah yang bertanya tentang haram atau halal daging kodok dan bekicot. dalam komik itu seorang jamaah bertanya kepada Pak AR “Assalamualaikum Pak AR, daging kodok dan bekicot itu haram atau halal?”

“Daging ayam aja banyak kok makan kodok? Ayam panggang, ayam goreng itu lebih enak, kenapa makan bekicot?” jawab Pak AR dengan gayanya yang halus dan penuh humor. Komik di halaman awal ini akan membuat pembaca semakin penasaran untuk menggali lebih dalam sosok Pak AR.

Di halaman lain ada komik percakapan Pak AR dengan seorang non-muslim yang meminta Pak Ar untuk mensalatkan jenazah ayahnya. Meskipun tidak ada perintah untuk mensalatkan jenazah non-muslim, namun pandainya Pak AR memberikan solusi terhadap orang non-muslim itu sehingga dapat diterima olehnya dan jamaah.

Kisah hidup Pak AR dikisahkan oleh Haidar Musyafa dengan begitu mengesankan. Dikisahkan juga ketika Pak AR harus berhenti sekolah di Madrasah Mu’allimin Muhamamdiyah Yogyakarta karena keadaan ekonominya. Meskipun tidak berhasil menamatkan pendidikan di Madrasah Mu’allimin, namun Pak AR menjadi anak panah dan guru Muhammadiyah di Sumatera Selatan selama 10 tahun (1934-1944).

Sebenarnya Pak AR tidak memiliki kewajiban menjadi anak panah, karena bukan alumnus Madrasah Mu’allimin. Ia menjadi anak panah karena menemani Dawam Rozi seorang alumnus Mu’allimin yang memiliki kewajiban untuk mengabdi menjadi anak panah Muhammadiyah.

Sebenarnya Pak AR berat untuk berangkat ke Sumatera Selatan, karena ia masih sekolah. Namun karena desakan dari seniornya, akhirnya ia mau menemani Dawam Rozi untuk menajdi anak panah. Di tanah pengabdiannya ini Pak AR dipaksa oleh agar bisa mengajar anak-anak sekolah Muhamamdiyah. Setiap malam ia selalu belajar materi yang akan ia ajarkan keesokan harinya.

Sebagai ketua PP Muhammadiyah Pak AR memiliki kedekatan dengan Presiden Soeharto. Salah satu kisah yang mengesankan dari kedekatan Pak AR dab Pak harto adalah ketika Pak AR hendak meminjam uang kepada Pak Harto sebesar 625 Juta Rupiah untuk membeli tanah seluas 25 hektar untuk pembangunan kampus terpadu Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY). jawaban mengejutkan dari Pak Harto “Jika Muhammadiyah ingin pinjam uang, Pak Harto sangat tidak berkenan.

Tapi jika Pak Harto diminta memberi bantuan, maka beliau akan senang hati memberikan bantuan secara pribadi sebesar lima ratus juta rupiah untuk membeli tanah yang diinginkan Muhammadiyah”. begitu jawaban Pak Harto kepada Muhammadiyah yang disampaikan melalui orang kepercayaannya Ali Affandi.

Meskipun Pak AR dan Pak Harto memiliki kedekatan karena sama-sama berasal dari Yogyakarta, namun tak menutup pintu bagi Pak AR untuk mengkritik Pak Harto. salah satunya adalah ketika Pak AR menyarankan Pak Harto untuk mengundurkan diri menjadi menjadi Presiden karena sudah terlalu lama menjabat. Kritikan itu dijawab oleh Pak Harto dengan santun dan bersahaja. Pak AR dan Pak Harto selalu berkomunikasi dengan bahasa jawa Krama Inggili yang menjadikan hubungan mereka semakin hangat. Percakapan ini juga digambarkan dalam komik yang membuat buku ini semakin menarik untuk dibaca.

Kisah kedekatan kedua tokoh ini mengajarkan kepada kita jika mengkritik dan membalas kritikan pun harus dengan sikap yang ramah dan santun. Tidak perlu dengan kasar dan keras. justru dengan keramahan akan membuat hubungan semakin hangat. Bahkan Haidar Musyafa menuliskan empat bab tentang hubungan Pak AR dengan Pak Harto. Dalam empat bab itu kedua tokoh ini menggambarkan tentang kualitasnya menjadi seorang pemimpin persyarikatan dan pemimpin negara.

Melalui buku ini kita bisa meneladani Pak AR yang bersahaja, memiliki jiwa sosial yang tinggi. kezuhudannnya dalam menjalani hidup benar-benar mencerminkan seorang ulama yang tulus untuk umatnya.

Bagi saya yang belum pernah berinteraksi langsung dengan Pak AR, bisa merasakan seolah-olah Pak AR hidup kembali dalam buku ini. Dengan bahasanya yang ringan dan bersahaja Haidar Musyafa menyuguhakn kisah Pak AR dengan sangat mengesankan dan dapat dinikmati oleh setiap kalangan. Kehadiran buku ini mampu menjadi obat rindu bagi penggemar Pak AR .
Share:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *